Friday, December 1, 2017

Resensi Buku #1 : Girls in the Dark


Judul Buku : Girls in the Dark
Pengarang : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penerbit Haru
Jumlah Halaman : 284
Nilai : 4,5/5


一 一 一 一 一
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

一 一 一 一 一


Halo!

Girls in the Dark merupakan novel pertama yang aku baca setelah rehat membaca novel cetak selama satu tahun. Sebenarnya novel ini sudah menjadi incaranku sejak lama, telaahnya pun bagus-bagus dan membuat penasaran, tapi oleh beberapa sebab aku maju-mundur untuk membelinya. Entah kenapa satu tahun belakang aku menjadi super pemalas untuk membaca buku versi cetak. Aku cenderung lebih nyaman membaca versi daring, baik komik atau bacaan lainnya.

Namun rupanya rasa jenuh datang juga. Aku mulai kangen dengan yang namanya baca buku cetak. Ada sensasi yang beda dan bikin kangen. Kalian yang hobi baca pasti ngerti deh apa yang aku maksud. Apalagi setelah tahu kalau buku karangan Akiyoshi-sensei itu bagus-bagus sekali. Dari sana, aku berencana memburu karya beliau ke toko buku awal Desember ini. 

Namanya rezeki ya, memang gak kemana. Gak disangka, beberapa waktu lalu aku beruntung memenangkan giveaway dari mbak Desty Baca Buku dan buku ini pun sampai ditanganku lebih awal dari rencana (^_^).

Untungnya lagi, pilihanku sama sekali gak meleset. Ceritanya rumit tapi ringan, ringan tapi rumit. Aku suka sekali. Sepertinya aku menemukan satu lagi pengarang yang karya-karyanya akan selalu aku buru. Hoho~ Minat bacaku bangkit, rasa penasaranku merekah kembali. Aku menghabiskan novel ini dalam sekali duduk, hal yang (sejujurnya) jarang sekali bisa kulakukan. 

Buku ini berhasil membuatku tak karuan, mengerutkan dahi, dan menaik-turunkan alis di sepanjang cerita. Kesukaanku pada cerita misteri, membuatku otomatis berpikir dan menebak-nebak dari awal cerita. Seperempat buku, aku sudah bisa menebak seperti apa kira-kira endingnya. 

"Ah, pasti bakal ada twist nih, dan twistnya pasti seperti ini"
Namun, bukan buku yang bisa jadi perbincangan hangat namanya kalau bisa tertebak begitu mudah. Ada plot twist tak terduga yang berhasil membuatku melempar buku ini saking sebalnya LOL.

"Ah, tuh kan apa aku bilang pasti begitu. Eh?????? Kok????? Aaaaargh!"
/lempar buku/
Satu yang membuatku tambah sebal. Setelah aku baca ulang semuanya (Ya, aku baca dua kali dalam satu kali duduk saking gak sebalnya. Aku sampai gak tidur semalaman), ternyata kenyataan dari semua itu sebenarnya terbaca jelas di awal bab. Aku hanya kurang jeli saja. Ah, bukan kurang jeli. Aku sudah terkecoh sejak awal. 

Kita diajak menebak-nebak siapa pelakunya, lalu di satu titik, kita akan disuguhkan petunjuk samar yang, jika kamu jeli, memberitahumu jawaban seperti apa yang ada di akhir cerita. Lalu, disaat kamu sudah yakin dan merasa aman, disaat itulah kamu terkecoh!

Permainan yang cerdas, sensei. Aku suka. 


Selain itu, aku juga suka sekali dengan suasana dari latar cerita. Setiap lokasinya berhasil digambarkan dengan apik. Layaknya anggota Klub Sastra yang berlatih mengasah kepekaan indera, Menurutku, Akiyoshi-sensei juga mencoba menyampaikan ceritanya melalui kepekaan indera pembacanya.

Maksudku begini. Penggambaran kemegahan dan kemewahan isi salon yang detail, berhasil membawaku "terbang". Aku seakan bisa melihat cantiknya chandelier, meja marmer, karpet, tirai, peralatan dapur dengan mataku sendiri. Manisnya kue-kuean dan bau teh yang disajikan pun terasa nyata, dan berhasil membuatku keroncongan. LOL.

Penokohannya cukup kuat. Perubahan POV di setiap bab sangat membantu memahami setiap karakter dengan cepat. Ada satu nilai berharga yang aku pelajari dari penokohan beliau. Nilai itu akan aku pakai untuk seterusnya. Apa itu? baca sendiri yaa, aku yakin kalian akan mengerti nilai apa yang aku maksud. Hehe.

Singkat cerita, aku puas dengan novel Girls in the Dark ini. Bagi kalian yang sama sepertiku, menyukai cerita misteri dan thriller, aku rekomendasikan novel ini. Cepetan baca, gak bakal nyesal kok. Aku berterimakasih pada Akiyoshi-sensei, sepertinya minat baca buku cetakku kembali bersemi. Aku gak sabar untuk membaca karya-karya beliau yang lainnya!




一 一 一 一 一
Nilai plus :
- Plot rapi,
- Gaya tulisan yang enak dibaca,
- Penggambaran latar yang detail,
- Jebakan petunjuk yang diberikan berhasil mengecohku!! ah! sebal.
- Cerita yang rumit tapi ringan, ringan tapi rumit. Ini menjadi nilai plus-plus banget bagiku.

Nilai minus :
- Terlalu banyak penggunaan istilah asing yang  sedikit membingungkan.

Catatan untuk penerbit :
Terjemahannya bagus, pilihan katanya enak dan mudah dicerna tapi alangkah baiknya kalau istilah-istilah asing yang muncul juga dialihbahasakan. Meski sudah diberikan catatan kaki, tetap saja agak membingungkan pembaca.

No comments:

Post a Comment